tajuk

Al-Aqsa dan impotensi negara-negara muslim

ketika ada kelompok muslim memanipulasi ajaran Islam disebut teroris tapi Israel yang terang benderang menyerbu dan mencaplok Al-Aqsa tidak pernah disebut sebagai teroris wajib diperangi.

23 Juli 2017 06:12

Konflik berdarah dengan pasukan keamanan Israel meletup lagi di Palestina Jumat pekan ini. Ribuan warga Palestina di Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza memprotes pemasangan detektor logam di semua pintu masuk kompleks Masjid Al-Aqsa berujung ricuh. Tiga orang Palestina terbunuh dan lebih dari 300 lainnya luka dalam insiden berlangsung sehabis salat Jumat.

Pasukan keamanan Israel memang menggunakan kekuatan berlebihan menghadapi rakyat Palestina bersenjatakan batu dan bom molotov. Rabu malam lalu, aparat keamanan negara Zionis itu juga menembak kaki imam Masjid Al-Aqsa Syekh Ikrima Sabri.

Bentrokan sengit tersebut dipicu oleh pengetatan keamanan oleh pasukan Israel di Al-Aqsa, setelah Jumat pekan lalu tiga lelaki Palestina menembak tiga polisi Israel berjaga di Al-Aqsa, menyebab dua polisi itu tewas dan ketiga pelaku akhirnya ditembak mati.

Ledakan kemarahan warga Palestina soal Al-Aqsa ini kembali memperlihatkan impotensi negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Mereka hanya bisa mengecam atau mengutuk.

Padahal apa yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina, terutama Al-Aqsa, bisa dikategorikan tindakan teroris atas nama negara. Tapi negara-negara muslim sudah terjebak oleh definisi terorisme versi Barat, yakni kegiatan teror dilakukan individu atau kelompok yang menimbulkan ketakutan warga sipil, seperti dilakoni ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan Al-Qaidah.  

Tapi apa yang dilakukan Israel sebagai sebuah negara juga sama. Pembunuhan, penangkapan serampangan, perampasan rumah dan tanah warga Palestina, adalah tindakan teror membikin takut masyarakat Palestina.

Namun yang dilakukan negara-negara muslim sungguh ironis. Mereka tidak menyebut hal itu sebagai tindakan teror. Mereka juga tidak membentuk pasukan koalisi seperti dilakoni Arab Saudi buat membombardir milisi Al-Hutiyun di Yaman.

Impotensi negara-negara muslim inilah membikin Israel kian berlagak. Di lain pihak, boleh jadi rakyat Palestina merasa dikhianati oleh negara-negara muslim. Mereka bisa saja bersatu buat menyerang Israel demi mempertahankan Al-Aqsa tapi itu tidak pernah mau mereka lakukan.

Sekali lagi sungguh mengenaskan. ketika ada kelompok muslim memanipulasi ajaran Islam disebut teroris tapi Israel yang terang benderang menyerbu dan mencaplok Al-Aqsa tidak pernah disebut sebagai teroris wajib diperangi.       

Seorang warga Palestina menjadi korban dalam bentrokan dengan polisi Israel di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, saat Hari Raya Idul Adha, 11 Agustus 2019. (Abir Ziyad buat Albalad.co)

Bentrokan pecah setelah polisi Israel izinkan pemukim Yahudi masuki Al-Aqsa di Hari Raya Idul Adha

"Allahu Akbar, kami akan mengorbankan jiwa dan darah kami untuk membela Al-Aqsa," teriak warga Palestina.

Palestina negara ilusi

Israel adalah sebuah negara teokrasi versi kaum Yahudi Zionis. Karena itu, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah bagian dari keimanan.

Buka dialog dengan Israel, terobosan Indonesia bela Palestina

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon bilang sungguh lucu Indonesia ingin berperan mencari solusi tapi hanya mau berhubungan dengan satu pihak.

Teladan Trump bagi pemimpin negara muslim

Kecaman dari mereka tak ubahnya letupan petasan akhirnya lenyap setelah sumbu habis.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR