tajuk

Gonjang ganjing suksesi di Arab Saudi

Dalam skala lebih luas, jika perseteruan dalam keluarga kerajaan tidak dapat dikendalikan, revolusi dapat meletup di Saudi. Sistem monarki bisa berganti menjadi demokrasi.

26 Juli 2020 21:34

Barangkali kali inilah momentum pergantian raja Arab Saudi paling mengerikan dan bikin deg-degan setelah pembunuhan Raja Faisal bin Abdul Aziz 45 tahun lalu. Sebab tradisi sudah dilanggar di negara Kabah itu.

Selama ini, sejak pendiri Arab Saudi Raja Abdul Aziz bin Abdurraman wafat, takhta berlanjut ke putra-putranya. Mulai dari Raja Saudi bin Abdul Aziz, Raja Faisal bin Abdul Aziz, Raja Khalid bin Abdul Aziz, Raja Fahad bin Abdul Aziz, Raja Abdullah bin Abdul Aziz, hingga sekarang Raja Salman bin Abdul Aziz.

Namun tiga bulan setelah menduduki singgasana, pada April 2015 Raja Salman mendepak adiknya, Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz, dari jabatan putera mahkota. Ini untuk kali pertama putera mahkota dipecat. Kebijakan itu diambil untuk memberi jalan bagi anaknya, Pangeran Muhammad bin Salman masuk ke dalam jalur menuju takhta.

Bin Salman menjadi wakil putera mahkota, sedangkan abang sepupunya, Pangeran Muhammad bin Nayif naik pangkat menjadi putera mahkota. Cuma butuh dua tahun dua bulan, Bin Salman berhasil menyingkirkan Bin Nayif lewat cara curang pada 21 Juni 2017

Sila baca: Tipuan Bin Salman di malam Ramadan

Pelanggaran tradisi oleh Raja Salman dan kebijakan arogan serta agresif dilakoni Bin Salman memicu perselisihan tajam dalam keluarga. Banyak pangeran senior - setidaknya masih belasan adik Raja Salman - menilai keponakan mereka itu tidak pantas menjadi raja.

Ketika menjadi wakil putera mahkota, Bin Salman masih berumur 30 tahun. Tidak ada pengalaman dan belum pernah memegang jabatan penting. Terbukti sejumlah kebijakan blunder dia buat: mulai dari menyerbu milisi Al-Hutiyun di Yaman hingga kini gagal menang, memblokade Qatar, perang harga minyak dengan Rusia, bermusuhan terbuka dengan Iran, dan paling mengerikan pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi di dalam kantor Konsulat Saudi di Istanbul.

Pamor Saudi langsung redup. Negeri Dua Kota Suci ini dianggap memicu ketidakstabilan di Timur Tengah. Belum lagi penangkapan lusinan ulama, wartawan, aktivis, akademisi, konglomerat, dan bahkan kerabat Bin Salman sendiri lantaran dianggap membangkang.

Paling mencengangkan dunia adalah penangkapan 201 orang, termasuk puluhan pangeran senior dari keluarga mendiang Raja Fahad, Raja Abdullah, Pangeran Nayif bin Abdul Aziz, dan Pangeran Talal bin Abdul Aziz. Salah satu orang terkaya dunia menjadi korban adalah Pangeran Al-Walid bin Talal, pemilik Kingdom Holding Company.

Namun Bin Salman tidak kapok juga. Maret lalu, 20 apngeran senior, termasuk dua pesaing beratnya: Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz (adik Raja Salman) dan Bin Nayif, ditahan.

Kegentingan makin terasa setelah Raja Salman masuk rumah sakit lantaran radang kantong empedu. Selentingan beredar di kalangan keluarga kerajaan, sang raja tlah wafat.

Situasi ini tentu mencemaskan bagi banyak pihak termasuk Bin Salman sendiri. Darah bisa tumpah karena berebut takhta. Apalagi dia setidaknya dua kali lolos dari upaya pembunuhan, yakni pada Agustus 2017, April 2018, dan November 2019.

Sila baca:

Kudeta gagal di Arab Saudi

Putera Mahkota Arab Saudi lolos dari upaya pembunuhan

Putera mahkota Saudi lolos dari upaya pembunuhan

Kaum oposisi Saudi baik di dalam dan luar negeri tentu saja menunggu moementum ini. Alhasil, suksesi kali ini menjadi penentu arah masa depan Saudi. Bin Salman bisa saja menjadi raja atau sebaliknya dia akan terbunuh oleh musuh-musuh dalam keluarga Bani Saud.

Dalam skala lebih luas, jika perseteruan dalam keluarga kerajaan tidak dapat dikendalikan, revolusi dapat meletup di Saudi. Sistem monarki bisa berganti menjadi demokrasi.

Sila baca: We will remove Al Saud regime

 

 

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Bin Salman dan simpang jalan menuju singgasana

Pilihan bagi Bin Salman cuma dua untuk menjadi raja kedelapan Arab Saudi: mengumumkan Raja Salman telah wafat atau mengatakan Raja Salman masih hidup dan mengundurkan diri.

Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, dibuka kembali mulai 14 Februari 2018 setelah dijadikan penjara bagi tahanan korupsi sejak 4 November 2017. (ritzcarlton.com)

Cegah pemberontakan, Bin Salman akan tangkapi pangeran, perwira militer, dan kepala suku

Mereka bakal ditampung di Hotel Intercontinental dan Hotel Ritz Carlton di Riyadh.

Mahyor Jenderal Abdul Aziz Badah al-Fagham, pengawal prubadi Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Courtesy: Bandar al-Galud)

Raja Salman dikabarkan meninggal

Tenaga medis diisolasi agar tidak membocorkan informasi mengenai keadaan Raja Salman sebenarnya. 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman ketakutan umumkan kondisi kesehatan Raja Salman sebenarnya

Bin Salman memiliki banyak musuh dalam keluarga lantaran menangkapi kerabatnya sendiri.





comments powered by Disqus