tajuk

Pembela Palestina sejati

Momentum normalisasi dengan Israel dibangun oleh Trump telah membongkar kedok negara-negara muslim.

26 Desember 2020 09:42

Sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghuni Gedung Putih pada Januari 2017, satu-satu topeng para pemimpin negara berpenduduk mayoritas muslim mulai terbuka. Mereka di depan publik lantang berteriak menyokong Palestina ternyata menjalin hubungan gelap dengan Israel.

Alhasil, timbul pertanyaan: negara muslim mana menjadi pembela Palestina sejati? Susah mencari jawabannya dan berbeda-beda kadarnya. Ketika Trump di awal Desember 2017 mendeklarasikan pengakuan Amerika terhadap Yerusalem ibu kota Israel, memang muncul kecaman dan demonstrasi di berbagai negara muslim.

Tapi Trump sudah memperkirakan itu: pemimpin dari negara-negara muslim paling cuma bisa mengecam dan umat Islamnya berunjuk rasa, kecuali di negara-negara kerajaan seperti di kawasan Arab Teluk tidak boleh berdemonstrasi. Habis itu, suasana adem lagi hingga akhirnya Amerika memindahkan kedutaan besarnya dari Ibu Kota Tel Aviv ke Yerusalem.

Selama empat tahun pemerintahan, Palestina makin merana dan negara-negara muslim kian jelas tidak berdaya. Organisasi Konferensi Islam (OKI) beranggotakan 52 negara muslim dan Liga Arab beranggotakan 22 negara sama-sama tidak bertaji. Kedua organisasi ini hanya bereaksi dan tidak proaktif membikin terobosan seperti dilakoni Trump.

Jangan berharap pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Organisasi dunia ini memiliki lembaga paling kuat dan berpengaruh bernama Dewan Keamanan, namun strukturnya tidak adil. Hanya ada lima negara - Amerika, Rusia, Inggris, Prancis, dan Cina - memiliki hak veto dan itu sangat tidak menguntungkan buat memperjuangkan isu Palestina.

Amerika adalah negara pertama mengakui berdirinya Israel dan paling sering memveto rancangan resolusi merugikan negara Bintang Daud itu. Inggris meletakkan pondasi bagi orang-orang Yahudi untuk memiliki negara di wilayah Palestina melalui Deklarasi Balfour pada 1917. Rusia paling banyak mengirim imigran Yahudi buat menghuni Israel.

Banyak negara muslim melakoni relasi rahasia dengan Israel. Empat negara Arab - Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Sudan, dan Maroko - tahun ini sepakat membina hubungan diplomatik dengan Israel termasuk melakukan hubungan gelap itu. Kedutaan Besar Israel rahasia sudah berperasi di Ibu Kota Manama, Bahrain, sejak 2009. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pernah terbang ke Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Maroko juga sama.

Bahkan Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman bulan lalu menerima tamunya, Netanyahu, di Kota Neom.

Israel pun mengakui terdapat 20-an diplomat mereka bekerja diam-diam selama dua dasawarsa di negara-negara Arab Teluk.

Indonesia juga sudah melakoni kerjasama pertahanan sedari zaman Orde Baru. Di era Presiden Abdurrahman Wahid, larangan berbisnis antara pihak swasta kedua negara dicabut.

Iran sebelum kemenangan Revolusi Islam dipimpin mendiang Imam Khomeini juga menjalin relasi mesra dengan Israel.

Turki bahkan merupakan negara muslim pertama menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sejak 1949. Jadi meski Presiden Recep Tayyip Erdogan kelihatan kerap galak terhadap Israel namun itu cuma insidental saja. Dia bahkan tidak pernah berniat memutus hubungan diplomatik dengan negara Bintang Daud itu.

Artinya, momentum normalisasi dengan Israel dibangun oleh Trump telah membongkar kedok negara-negara muslim. Atmosfer tercipta saat ini adalah bukan hal tabu lagi berhubungan terang-terangan dengan negeri Yahudi itu. Siapa saja negara muslim mengikat tali perjanjian dengan negara Zionis itu tidak akan dimusuhi karena semua mafhum itu demi kepentingan nasional masing-masing, politik, ekonomi, atau pertahanan dan keamanan.

Jangan percaya kalau menjalin relasi resmi dengan Israel, bisa membantu Palestina menjadi negara merdeka dan berdaulat. Turki, Mesir, dan Yordania saja sudah puluhan tahun melakoni itu, Palestina masih merana.

Momentum normalisasi Israel dilahirkan Trump kian membuktikan negara-negara muslim tidak serius membela Palestina. Mereka tidak menganggap isu ini luar biasa karena itu langkah diambil biasa-biasa saja. Tidak ada terobosan seperti dilakukan Trump Bahkan sering cuma reaktif bukan pro aktif.

Tapi sekali kali lagi semua pihak mesti memahami negara-negara muslim memiliki kemampuan masing-masing terbatas. Meski mereka menyatu dalam OKI tapi tidak solid. Bahkan tidak jarang OKI jadikan alat untuk kepentingan negara besar tertentu.

Alhasil, pembela Palestina sejati adalah orang-orang Palestina sendiri. Mereka harus bisa bersatu dengan solid. Palestina bekejaran dengan waktu. Ada ancaman global dapat menjadikan isu Palestina menjadi kecil dan terlokalisasi lantaran dunia lebih kompak untuk persoalan mengancam peradaban manusia, seperti pandemi penyakit, perubahan iklim, atau perlombaan senjata pemusnah massal.

Hamas naif Fatah tamak

Perbedaan prinsip dalam menyikapi penjajahan Israel membuat sulit bagi Hamas dan Fatah berdamai dengan jujur. Saling curiga akan terus ada.

Basa basi pemilihan umum Palestina

Dua pemilihan umum di Palestina akan pada Mei dan Juli nanti akan menjadi ujian seberapa serius dan kokoh rekonsiliasi serta konsolidasi semua faksi Palestina setelah empat tahun remuk dihantam beragam kebijakan kontroversial Trump.

Selamat tinggal Palestina

Palestina harus tahu diri isu Palestina bukan lagi menjadi kepentingan nasional negara-negara muslim.

Jangan biarkan Netanyahu jatuh

Kedigdayaan Netanyahu makin kukuh membuktikan tidak ada persatuan dan kesatuan, bahkan ada pengkhianatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina





comments powered by Disqus