tajuk

Biden, Bennett, dan selamat tinggal Palestina

Bennett intinya lebih mempertahankan status quo: Jalur Gaza dikuasai Hamas tetap terpisah dari Tepi Barat dikontrol Fatah.

14 Juli 2021 08:07

Siapa saja penerus pemerintahan di Amerika Serikat dan Israel, tidak ada yang serius mengupayakan pembentukan negara Palestina merdeka dan berdaulat. Presiden Joe Biden sudah menghuni Gedung Putih hampir setengah tahun belum mengambil terobosan. Perdana Menteri Naftali Bennett, baru bulan lalu menggantikan Benjamin Netanyahu, lebih tertarik mempertahankan status quo.

Sampai sekarang pemerintahan Biden tidak membatalkan deklarasi unilateral Amerika disampaikan pendahulunya, Presiden Donald Trump di awal Desember 2017, yakni pengakuan Yerusalem secara keseluruhan (bagian barat dikuasai sejak 1948 dan sebelah timur dicaplok sedari 1967) sebagai ibu kota Israel.

Biden juga tidak memindahkan kembali Kedutaan Besar Amerika untuk Israel dari Yerusalem ke Ibu Kota Tel Aviv, setelah dipindahkan Trump di hari peringatan berdirinya negara Zionis itu tiga tahun lalu.

Biden tidak pula membatalkan pengakuan negaranya, disampaikan pemerintahan Trump tahun lalu, soal permukiman Yahudi di Tepi Barat (berjumlah 250 dan dihuni lebih dari 600 ribu orang) sebagai wilayah kedaulatan Israel.

Pemerintahan Naftali Bennett juga sama. Dalam pertemuan dengan para menteri luar negeri Eropa pekan ini, Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid menekankan solusi dua negara mustahil dikerjakan apalagi diwujudkan saat ini. Artinya negara Bintang Daud itu meyakini Palestina cuma negara khayalan.

Bennett masih mempertahankan kebijakan Yahudisasi di Yerusalem Timur sebagai bagian untuk menciptakan fakta di lapangan orang Yahudi lebih dominan ketimbang Palestina. Kenyataan ini untuk memperkuat klaim mereka sampai melalui Hukum Dasar Yerusalem, disahkan Knesset (parlemen Israel) pada 1980: Yerusalem adalah ibu kota abadi Israel dan tidak dapat dibagi dua.

Proyek Yahudisasi ini meliputi penggusuran rumah sekaligus pengusiran paksa warga Palestina dari sejumlah kawasan di Yerusalem Timur, seperti Silwan, Syekh Jarrah, dan Isawiyah. Program ini juga mencabut status izin tinggal tetap bagi orang-orang Palestina tinggal di Yerusalem Timur sekarang ini bekerja atau sekolah di luar negeri. Orang Palestina dianggap sebagai teroris juga bisa dideportasi dari Yerusalem Timur, biasanya ke Tepi Barat atau Yordania.

Provokasi di kompleks Masjid Al-Aqsa merupakan kiblat pertama umat Islam terus berlangsung. Saban hari, polisi Israel mengawal lusinan orang Yahudi berkeliling sekaligus berdoa di dalam Al-Aqsa, sebuah pelanggaran atas kesepakatan dengan Yordania dalam perjanjian damai pada 1994.

Bennett intinya lebih mempertahankan status quo: Jalur Gaza dikuasai Hamas tetap terpisah dari Tepi Barat dikontrol Fatah. Dia lebih tertarik memajukan perekonomian terutama di Gaza untuk mencegah ledakan sosial tentunya akan berdampak luas hingga mengancam warga dan kepentingan Israel.

Bennett berambisi menciptakan sejarah, yakni membebaskan empat warga Israel - jenazah dua serdadu tewas dalam perang Gaza 2014, yakni Hadar Goldin dan Shaul Oron, serta Avera Mengitsu dan Hisyam as-Sayyid, bakal ditukar dengan 1.111 tahanan Palestina diminta Hamas.

Akhirnya, Biden dan Bennett seolah mengirim pesan: selamat tinggal Palestina. Negara kalian impikan khayalan belaka.

Seorang warga Palestina di Jalur Gaza pada 15 September 2015 telah menerima bantuan fulus 320 shekel per bulan dari Qatar. (Sabq 24)

Keluarga miskin di Gaza mulai terima bantuan fulus US$ 100 dari Qatar

Secara keseluruhan Qatar menggelontorkan dana bantuan US$ 30 juta per bulan untuk Gaza.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bennett: Tidak akan pernah ada negara Palestina

"Saya kira gagasan itu sebuah kesalahan mengerikan. Saya tidak akan mendukung ide ini."

Pemimpin Hamas Musa Abu Marzuq. (Algulf.net)

Pemimpin Hamas: Iran paling banyak membantu Hamas

Abu Marzuq menekan semua negara membantu Hamas terbatas, sedangkan Iran satu-satunya menolong melewati batas.

Para aktivis pembela Palestina mendirikan tenda di kawasan Syekh Jarrah, Yerusalem Timur, Palestina. (Maydan al-Quds)

Bennett tidak akan usir sejumlah keluarga Palestina dari rumah mereka di Syekh Jarrah

The Nahalat Shimon Company mampu membuktikan di pengadilan mereka memiliki dokumen kepemilikan sah atas keempat rumah itu memang milik orang-orang Yahudi lari ketika terjadi Perang Arab -Israel pada 1948.





comments powered by Disqus