palestina

Getir Gaza

"Saya merasa berdosa melahirkan anak padahal saya tahu saya tidak bisa memberikan masa depan bagus buat mereka," kata Hiba Ziad, gadis asal Kota Gaza.

02 September 2015 11:22

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan terbarunya memperingatkan kembali Jalur Gaza tidak layak dihuni manusia paling lambat lima tahun lagi. Sulitnya pasokan kebutuhan dasar dan rusaknya infrastruktur akibat perang menjadi sebab.

Situasinya persis seperti itu saat Albalad.co melawat ke Gaza tiga tahun lalu. Kemiskinan kelihatan di mana-mana. Kategori orang paling miskin di wilayah seluas 360 kilometer persegi ini adalah mereka menganggur dan kalau bepergian berjalan kaki atau bersepeda.

Sedikit di atas kategori itu, yakni miskin. Mereka memiliki kendaraan meski itu cuma gerobak keledai atau motor.

Dua kelompok ini sulit buat menyekolahkan anak-anak mereka. Bahkan untuk makan saja susah. Rumah mereka sederhana dan selalu gelap saban habis magrib. Maklum, listrik kerap padam kala surya terbenam hingga pagi. Alhasil, kediaman mereka cuma diterangi temaram cahaya lilin.

Kelas menengah biasanya sudah bermobil meski usianya uzur. Mereka kadang bepergian menumpang taksi. Ongkosnya antara satu hingga dua shekel, tergantung jarak tempuh. Tidak seperti di Jakarta, sekali angkut taksi di Gaza bisa membawa orang ke tujuan berlainan.

Pekerjaan mereka kalau tidak pedagang, pegawai negeri, atau karyawan swasta. Keluarga kelas menengah ini mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka hingga kuliah. Seingat saya di Gaza ada dua perguruan tinggi: terbesar adalah Universitas Islam Gaza dan satu lagi Universitas Al-Azhar.

Level ini juga tidak akan kegelapan saban malam. Mereka memiliki cukup fulus buat membeli generator sekaligus bahan bakar harganya lumayan mahal. Mereka juga bisa menonton tayangan televisi satelit.

Yang terakhir, kalangan tajir seolah tidak tersentuh getirnya kehidupan di Gaza. Mereka ini biasanya pengusaha, seperti Abdul Aziz al-Khalidi. Rumahnya tiga lantai, tepat di seberang Hotel Al-Mathaf tempat saya menginap.

Kaum berkocek tebal bisa menikmati sedikit kesenangan di Gaza: tidur di hotel mewah, makan enak di restoran mahal, atau bahkan santai sambil dipijat. Orang-orang ini pun biasa bepergian ke luar negeri.

Kesimpulan PBB itu betul. Rasanya tidak ada masa depan hidup di Gaza. "Saya merasa berdosa melahirkan anak padahal saya tahu saya tidak bisa memberikan masa depan bagus buat mereka," kata Hiba Ziad, gadis asal Kota Gaza.

Sopir taksi bernama Suhail pun membikin saya menitikkan air mata. "Ya Allah, jadikan Faisal jalan keluar saya."

Tapi setidaknya selama dua pekan di Gaza saya terhibur oleh paras para gadis saya temui di jalan-jalan: menawan dengan pipi merona merah.

Jamal, nelayan asal Kota Gaza, tengah mempersiapkan sarapan buat putranya berupa roti lapis isi sardencis di tepi pantai, Kamis, 25 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co

Hamas tahan tiga aktivis lantaran berbincang dengan orang Israel

Hamas menetapkan hubungan dengan orang Israel adalah sebuah kejahatan dan pelakunya diancam hukuman penjara atau mati kalau terbukti menjadi informan atau mata-mata bagi negara Zionis itu.

Suasana dalam terowongan menghubungkan Mesir dan Jalur Gaza di perbatasan Rafah, 21 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Pemimpin Hamas akui satu anggotanya membelot ke Israel

Para pejabat Hamas mengklaim awal bulan ini, mereka telah membekuk jaringan informan Israel di Gaza ingin melancarkan sabotase.

Israel memakai sebuah buldoser untuk memindahkan mayat seorang pemuda Palestina di perbatasan Jalur Gaza-Israel di Khan Yunis, 23 Februari 2020. (Twitter)

Israel pindahkan mayat pemuda Palestina pakai buldoser

Militer Israel menyebut kedua warga Palestina ini mencoba menanam bahan peledak di wilayah Israel di seberang tembok perbatasan. 

Seorang lelaki mengendarai gerobak keledai melewati lokasi proyek rumah sakit di Kota Gaza bakal diresmikan Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani  pada 23 Oktober 2012. Lawatan emir Qatar itu menjadi kunjungan pertama pemimpin Arab ke Jalur Gaza sejak diblokade oleh Israel pada 2007. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israel bersedia bayari tiket pesawat bagi warga Palestina ingin pindah dari Gaza

Sebanyak 35-40 ribu warga Palestina telah pergi dari Gaza melalui Mesir sejak perbatasan di Rafah dibuka pada Mei 2018.





comments powered by Disqus