palestina

Jangan lupakan Palestina

Yerusalem adalah kunci penyelesaian isu Palestina.

16 Desember 2015 11:18

Sejak berakhirnya Perang Gaza musim panas tahun lalu, isu Palestina nyaris kurang mendapat sorotan luas masyarakat internasional.

Walau intifadah ketiga telah meletup sedari awal Oktober lalu dan telah menewaskan lebih dari seratus warga Palestina dan melukai tiga ribu lainnya, masyarakat internasional dan para pemimpin dunia lebih kesengsem menyoroti perkembangan serangan teror di Ibu Kota Paris, Prancis, bulan lalu.

Tidak berhenti sampai di situ. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan resolusi menyerukan kepada seluruh negara di dunia mengambil segala tindakan diperlukan, termasuk militer, buat menumpas milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) menjadi dalang teror ISIS dan kini menjelma sebagai organisasi teror paling mengerikan.

Karena itulah Indonesia menerima tawaran untuk menjadi tuan rumah konferensi internasional soal Yerusalem. Konferensi berlangsung Senin-Selasa pekan ini dihadiri 25 negara anggota Komite Palestina PBB dan 24 negara peninjau.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan konferensi ini ingin mengingatkan kembali masyarakat dunia masalah Palestina belum selesai. "Di tengah dunia dihadapkan pada banyak sekali persoalan, kita tetap secara konsisten untuk mengangkat isu Palestina supaya masalah Palestina ini tidak dilupakan oleh dunia," katanya dalam jumpa pers sebelum membuka konferensi itu di Jakarta Senin lalu.

Dia menambahkan Indonesia bersedia menjadi tuan rumah konferensi untuk menegaskan lagi dukungan penuh pemerintah dan rakyat Indonesia, serta sekaligus menunjukkan kepada dunia tentang konsistensi perjuangan bangsa dan rakyat Palestina dalam mencapai kemerdekaan sejati.

Dunia memang belum melupakan masalah usang mengenai Palestina. Saban kali ada perang demonstrasi besar-besaran digelar di beragam negara. Hari Yerusalem Internasional digagas Iran saban Jumat terakhir di bulan Ramadan selalu diperingati dengan mengecam penjajahan Israel terhadap Palestina, termasuk pendudukan atas kota suci Yerusalem.

Tapi barangkali sebagian pihak sudah kehilangan harapan buat menyelesaikan konflik Palestina-Israel, kalau dihitung sejak negara Zionis itu berdiri telah membelit selama 67 tahun. Isu ini begitu rumit. Seperti benang kusut, sulit untuk mulai mengurai dari mana.

Kerumitan amat sangat inilah membikin beragam perundingan selalu mandek. Perundingan langsung terakhir kali berlangsung pada 2001 di Kota Annapolis, Negara Bagian Maryland, Amerika Serikat. Sehabis itu upaya mendorong negosiasi digulirkan lagi mentok oleh tuntutan Presiden Palestina Mahmud Abbas agar Israel menghentikan perluasan permukiman Yahudi di Tepi Barat.

Sejatinya ada tiga isu besar kerap mengganjal proses perundingan damai kedua pihak, yakni status Yerusalem, perbatasan sebelum Perang Enam hari 1967, dan pemulangan pengungsi Palestina.

Bangsa Palestina memimpikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota mereka. Namun setelah mencaplok Yerusalem sehabis menang dalam Perang Enam Hari 1967, Tel Aviv menyatakan Yerusalem adalah ibu kota abadi Israel dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina. Posisi Israel ini tetap sampai sekarang dan telah dikukuhkan lewat Hukum Dasar Yerusalem disahkan Knesset (parlemen Israel) pada 1980.

Bahkan untuk memperkuat klaimnya atas Yerusalem, Israel melaksanakan Yudaisasi untuk memperkuat klaim sevara de facto atas kota suci tiga agama itu, yakni Islam, Yahudi, dan Nasrani. Israel sangat jarang memperpanjang izin pembangunan rumah warga Palestina di Yerusalem Timur. Sehingga banyak rumah orang Palestina dirobohkan.

Israel juga mengeluarkan aturan mencabut izin tinggal bagi warga Palestina asal Yerusalem pergi keluar negeri untuk mencari pekerjaan atau belajar. Semua ini dilakukan supaya orang Yahudi kian dominan ketimbang warga Arab di Yerusalem Timur.

Israel juga ingin memperkuat klaim teologi dan sejarah dengan terus melaksanakan ekskavasi di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Hingga kini Israel meyakini di bawah masjid tersuci ketiga bagi kaum muslim setelah Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi di Arab Saudi itu terdapat reruntuhan Kuil Sulaiman.

Tel Aviv juga terkesan segan menerima tuntutan Palestina soal batas wilayah sebelum 1967 karena mencakup Yerusalem Timur.

Israel dipastikan menolak pemulangan pengungsi Palestina, kini jumlahnya menurut UNRWA (badan PBB urusan pengungsi Palestina) 5,5 juta orang. Mereka adalah keturunan dari korban dalam peristiwa Nakbah, terusirnya sekitar 700 ribu warga Palestina saat negara Israel terbentuk pada 1948. Belum lagi bila para pengungsi pulang ini menuntut pengembalian tanah, rumah, dan harta mereka.

Masalah lainnya membekap dalam konflik Palestina-Israel adalah permukiman Yahudi di Tepi Barat, ilegal menurut hukum internasional, blokade Jalur Gaza, pembangunan Tembok Pemisah di Tepi Barat sepanjang lebih dari 750 kilometer sejak 2002. Belum lagi masih berdirinya ratusan pos pemeriksaan di Tepi Barat dan operasi keamanan saban hari dengan alasan mencari teroris.

Penyelesaian konflik Palestina kian sukar lantaran di kedua pihak terdapat kelompok-kelompok garis keras menolak berkompromi. Kaum Yahudi Ortodoks dan ultra-nasionalis meyakini wilayah Palestina, termasuk Jalur Gaza dan Tepi Barat, adalah tanah dijanjikan Tuhan. Demikian pula, kelompok seperti Hamas di Palestina tidak mau mengakui negara Israel dan bahkan bersumpah menghancurkan negara Zionis itu.

Dalam sambutannya di hari pertama konferensi, Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki menuding impotensi masyarakat internasional telah membikin Israel kebal hukum dan bahkan berada di atas hukum. Dia percaya Yerusalem adalah kunci penyelesaian masalah Palestina. "Perang dimulai dari Yerusalem dan perdamaian bisa dicapai dengan Yerusalem," ujarnya.

Menachem Klein, profesor ilmu politik dari Universitas Bar-Ilan, Tel Aviv, sependapat dengan Maliki. "Penyelesaian isu Yerusalem harus segera dan paling awal, bukan di akhir," tuturnya kepada Albalad.co usai penutupan konferensi.

Isu Palestina bisa saja dilupakan orang bila persoalan global mengancam peradaban manusia kian menguat, seperti perubahan iklim, terorisme, dan wabah penyakit.

Kiri ke kanan: Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri Hasan Kleib, Duta besar Indonesia untuk PBB Desra Percaya, dan Menteri Luar negeri Palestina Riyad al-Maliki saat menggelar jumpa pers di hari pertama konferensi soal Yerusalem di Jakarta, 14 Desember 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kepulauan Faroe akan akui Yerusalem ibu kota Israel

Rencana itu bakal dilaksanakan pada Oktober atau November 2020.

Duta Besar Amerika buat Israel David Friedman, utusan khusus Amerika bagi Timur Tengah Jason Greenblatt ikut merobohkan tembok saat peresmian terorongan menuju kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, 30 Juni 2019. (Facebook/Screen capture)

Amerika sebut permukiman Yahudi di Tepi Barat tidak ilegal

Israel mencaplok Tepi Barat dan Yerusalem Timur setelah menang dalam Perang Enam Hari pada 1967. Saat ini terdapat sekitar 700 ribu pemukim Israel di kedua wilayah itu.

Palestina tidak ada dalam daftar negara di situs resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. (Twitter)

Departemen Luar Negeri Amerika hapus Palestina dari daftar negara

Tidak jelas kapan Departemen Luar Negeri Amerika menghapus Palestina dari daftar negara.

Seorang lelaki mengendarai gerobak keledai melewati lokasi proyek rumah sakit di Kota Gaza bakal diresmikan Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani  pada 23 Oktober 2012. Lawatan emir Qatar itu menjadi kunjungan pertama pemimpin Arab ke Jalur Gaza sejak diblokade oleh Israel pada 2007. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israel bersedia bayari tiket pesawat bagi warga Palestina ingin pindah dari Gaza

Sebanyak 35-40 ribu warga Palestina telah pergi dari Gaza melalui Mesir sejak perbatasan di Rafah dibuka pada Mei 2018.





comments powered by Disqus