palestina

Palestina lenyap dalam Peta Google

"Sengaja atau tidak, Google ikut membantu kebijakan pemerintah Israel dalam menghabisi etnik Palestina," ujar Zak Martin.

09 Agustus 2016 13:27

Negara Palestina lenyap dalam Peta Google. Kebijakan mesin pencari raksasa menghilangkan nama Palestina dalam peta bikinan mereka memicu reaksi keras.

Seseorang mengaku bernama Zak Martin membikin petisi dimuat dalam situs change.org, menuntut Google memasukkan nama negara Palestina dalam petanya. Dia mengaku heran negara Israel dibentuk di atas tanah Palestina malah ada dalam peta Google.

"Penghilangan Palestina adalah sebuah penghinaan besar terhadap bangsa Palestina dan melecehkan upaya jutaan orang terlibat dalam kampanye untuk kemerdekaan dan kebebasan Palestina dari penjajahan serta penindasan Israel," tulis Zak Martin dalam petisinya.

Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) empat tahun lalu mengakui Palestina sebagai negara non-anggota. Untuk pertama kali pula, bendera Palestina tahun lalu berkibar di markas besar PBB di Kota New York, Amerika Serikat, dan seluruh lembaga di bawah PBB.  

Zak Martin bilang hilangnya Palestina dalam Peta Google merupakan isu penting. Sebabpeta bikinan Google menjadi acuan banyak pihak di seluruh dunia, termasuk wartawan, mahasiswa, dan para peneliti soal konflik Palestina-Israel.

Jika dihitung sejak negara Zionis itu berdiri, konflik Palestina-Israel telah berlangsung 68 tahun. Dan banyak pihak meyakini konflik kedua bangsa ini bakal berjalan abadi.

"Sengaja atau tidak, Google ikut membantu kebijakan pemerintah Israel dalam menghabisi etnik Palestina," ujar Zak Martin.

Hingga hari ini, petisi menuntut Palestina dimasukkan dalam Peta Google sudah mendapat sokongan 166.858 orang.

Ratusan warga Palestina bersiap untuk berbuka puasa dengan makanan sumbangan dari masyarakat Indonesia disalurkan melalui KBRI Amman, 25 Mei 2018. (Albalad.co)

Israel berdaulat atas seluruh wilayah Yerusalem versi proposal damai Trump

Palestina akan diberi status negara dengan syarat tidak ada milisi di Jalur Gaza dan Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi dengan Ibu Kota Yerusalem.

Iklan layanan kereta Palestine Railways. (Twitter)

Tidak pernah ada yang namanya Israel

Tiga kali Perang Arab-Israel pada 1948, 1967, dan 1973 membikin wilayah Israel kian luas: dari 17 persen sekarang menjadi 78 persen.

Kiri ke kanan: Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri Hasan Kleib, Duta besar Indonesia untuk PBB Desra Percaya, dan Menteri Luar negeri Palestina Riyad al-Maliki saat menggelar jumpa pers di hari pertama konferensi soal Yerusalem di Jakarta, 14 Desember 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

18 ribu rumah warga Palestina di Yerusalem Timur terancam dirobohkankan Israel

Kebijakan perobohan rumah-rumah orang Palestina merupakan strategi Israel untuk memperluas permukiman Yahudi dan mengubah kondisi geografis di Yerusalem Timur. 

Ketua Komite Hubungan Luar negeri dan Pertahanan Nasional Kongres Brasil Eduardo Bolsonaro berpose bareng Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan istri, Sara Netanyahu sebelum peresmian kantor dagang Brasil di yerusalem, 15 Desember 2019, (Twitter/@IsraeliPM)

Brasil buka kantor dagang di Yerusalem

Brasil berkomitmen memindahkan kedutaannya ke Yerusalem tahun depan.





comments powered by Disqus

Rubrik palestina Terbaru

Israel berdaulat atas seluruh wilayah Yerusalem versi proposal damai Trump

Palestina akan diberi status negara dengan syarat tidak ada milisi di Jalur Gaza dan Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi dengan Ibu Kota Yerusalem.

24 Januari 2020

TERSOHOR