palestina

Israel batalkan salat Jumat di Al-Aqsa setelah tiga polisinya ditembak

Dua dari tiga polisi luka parah itu akhirnya meninggal.

14 Juli 2017 17:14

Untuk pertama kali dalam waktu hampir tiga dasawarsa, Israel hari ini membatalkan pelaksanaan salat Jumat di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur. Kebijakan ini diberlakukan setelah pagi tadi terjadi penembakan terhadap tiga polisi Israel.

Terakhir kali kompleks Al-Aqsa ditutup bagi kaum muslim tiga tahun lalu, terjadi sehari setelah insiden penembakan terhadap Yehuda Glick, kini anggota Knesset (parlemen Israel) dari Partai Likud.

Namun pelarangan salat Jumat di Al-Aqsa adalah hal tidak lazim dan tidak pernah terjadi selama intifadah kedua berlangsung. Seorang pejabat Waqaf Muslim, lembaga bertanggung jawab mengurus kompleks Al-Aqsa, bilang kepada Haaretz, terakhir kali salat Jumat dibatalkan di Al-Aqsa pada 1990.

Pembatalan hari ini terjadi lantaran tadi pagi tiga Israel keturunan Arab menembak tiga polisi berjaga di pintu masuk Kota Tua, Yerusalem Timur. Penyerangan ini mengakibatkan ketiga polisi nahas itu luka kritis. Dua di antara mereka akhirnya meninggal.

Ketiga pelaku berasal dari Umm al-Fahm, kota kecil berpenduduk mayoritas Palestina, di utara Israel. Polisi Israel berhasil menembak mati ketiganya. Di lokasi kejadian, polisi menyita dua senapan serbu dan satu pistol.

Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel) melansir identitas ketiga pelaku, yakni Ahmad Muhammad Jabarin (29 tahun), Muhammad Hamid Abdul latif Jabarin (19 tahun), dan Muhammad Ahmad Mafdal Jabarin (19 tahun). Mereka tidak pernah terlibat kejahatan sebelumnya.  

Menteri Keamanan Masyarakat Israel Gilad Erdan meminta para tokoh masyarakat bertindak untuk menenangkan situasi di Yerusalem. "Serangan hari ini adalah sebuah kejadian sulit dan berat di mana garis batas sudah dilanggar," katanya.

Juru bicara Hamas Sami Abu Zuhri menilai penembakan di Yerusalem hari ini merupakan reaksi alamiah dari teror yang dilakukan Israel dan penistaan terhadap masjid Al-Aqsa. "Juga menjadi bukti perlawanan terus berlanjut atas penjajahan dan rakyat Palestina bersatu serta mendukung perjuangan."

Polisi mengusir warga Palestina ingin memasuki kompleks Al-Aqsa untuk salat Jumat saat mereka tiba di Gerbang Singa. Setidaknya, dua tokoh agama datang bersama rombongan juga disuruh pergi setibanya di sana.

Palestina tidak ada dalam daftar negara di situs resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. (Twitter)

Departemen Luar Negeri Amerika hapus Palestina dari daftar negara

Tidak jelas kapan Departemen Luar Negeri Amerika menghapus Palestina dari daftar negara.

Seorang lelaki mengendarai gerobak keledai melewati lokasi proyek rumah sakit di Kota Gaza bakal diresmikan Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani  pada 23 Oktober 2012. Lawatan emir Qatar itu menjadi kunjungan pertama pemimpin Arab ke Jalur Gaza sejak diblokade oleh Israel pada 2007. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israel bersedia bayari tiket pesawat bagi warga Palestina ingin pindah dari Gaza

Sebanyak 35-40 ribu warga Palestina telah pergi dari Gaza melalui Mesir sejak perbatasan di Rafah dibuka pada Mei 2018.

Seorang warga Palestina menjadi korban dalam bentrokan dengan polisi Israel di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, saat Hari Raya Idul Adha, 11 Agustus 2019. (Abir Ziyad buat Albalad.co)

Bentrokan pecah setelah polisi Israel izinkan pemukim Yahudi masuki Al-Aqsa di Hari Raya Idul Adha

"Allahu Akbar, kami akan mengorbankan jiwa dan darah kami untuk membela Al-Aqsa," teriak warga Palestina.

Suhaib Hasan Yusuf, putra dari pendiri sekaligus pemimpin Hamas di Tepi Barat Syekh Hasan Yusuf, telah membelot dari Hamas. (Screencapture Channel 12)

Satu lagi putra pemimpin Hamas membelot

"Para pemimpin Hamas (di Turki) tinggal di hotel dan apartemen mewah, anak-anak mereka belajar di sekolah swasta dan mereka digaji mahal oleh Hamas," ujar Suhaib.





comments powered by Disqus