pelesir

Selayang pandang Amman

Saya tidak terlalu menikmati Amman rupanya bertemu lelaki Yordania kapok ke Jakarta.

25 April 2015 15:17

Dari balik jendela pesawat Etihad Airways bersiap mendarat saya sudah bisa merasakan panas terik membekap Yordania. Meski suhu udara kata pilot pagi hari ini 26 derajat celcius, hawa Ibu Kota Amman terasa lebih menyengat ketimbang Jakarta.

Perjalanan dari Bandar Udara Internasionbal Ratu Alia lancar. Aspal mulus tidak banyak dilalui kendaraan. Di kiri dan kanan jalan terlihat gersang, hanya sedikit barisan pohon zaitun dengan daun hijau bercampur putih debu. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di jantung Amman.

Kian sore arus lalu lintas mulai macet di sekitar jalan Raja Husain, Pangeran Muhammad, dan Salahuddin al-Ayyubi meski tidak separah Jakarta. Namun pemandangan pusat kota masih lebih menarik Jakarta dibanding Amman. Di sini banyak dipenuhi bangunan apartemen dengan dinding warna pasir gurun. Seragam dan kelihatan kusam.

Toko, restoran, hotel, bangunaan flat, tempat penukaran uang, kedai kopi, bank berhimpitan di jalanan. Terlihat kalah rapih daripada Jakarta. Juga tidak semegah jejeran gedung di sepanjang Jalan Sudirman dan Thamrin.

Meski pemandangan Kota Amman tidak semenarik Jakarta, namun penduduk Amman - kebanyakan berdarah Palestina - amat gaya dalam berpakaian. Toko-toko busana, jam tangan, perhiasan, aksesoris makin sore kian kebanjiran pengunjung. Gadis-gadis muda berkulit putih laksana pualam tetap tampil modis di balik abaya hitam mereka. Pasangan kekasih bahkan tidak canggung berjalan bergandengan walau tidak sampai berpelukan

Anak-anak muda melintas atau nongkrong di jalan juga tampil ciamik. Bercelana jins dipadu kaus pas di tubuh dan berkacamata hitam. Bahkan Muaz, penjaga toko kain dan pakaian di Jalan Raja Husain saya temui tampil dengan dandanan celana jins dan kaus ketat dibalut jaket kulit.

Untung saja orang-orang Yordania rata-rata sedap dipandang. Yang bikin saya kaget juga, di Amman banyak toko dan kios buku, biasanya berada di simpang jalan mirip rumah makan Padang di Jakarta.

Saya sebenarnya sudah keki sejak dari imigrasi. Sebab petugas terkesan mencurigai saya sehingga terpaksa dua kali menjalani potret retina. Bahkan di cap paspor saya ada tulisan: hubungi kantor polisi terdekat dalam sebulan.

Apalagi nilai tukar dinar Yordania lebih tinggi ketimbang dolar Amerika Serikat. Fulus US$ 100 setara 78 dinar Yordania. Kendaraan umum tersedia lebih banyak taksi, bus jarang melintas. Sekali menumpang taksi perlu merogoh 1,5 dinar.

Saya tidak terlalu menikmati Amman rupanya bertemu lelaki Yordania kapok ke Jakarta. Namanya Adam. Kami bertemu di sebuah rumah makan kecil. Kalau saya tidak salah ingat di Jalan Pangeran Muhammad.

Seraya asyik melahap menu hummus dan daging kambing, dia menceritakan pengalaman buruknya ketika melawat ke Jakarta lima tahun lalu. "Saya diperas oleh sopir taksi dan polisi. Saya diantar di hotel bukan yang sudah saya pesan," kata pria mengaku pengusaha properti dan kini tinggal di Thailand bersama keluarganya. "Tadinya saya berencana sepekan di Jakarta, tapi karena kejadian itu, besoknya saya langsung pulang ke Amman."

Hotel Aloft akan beroperasi di Kota Makkah, Arab Saudi, pada 2025 akan menjadi hotel terbesar di dunia. (Marriott)

Hotel terbesar di dunia akan beroperasi di Makkah pada 2025

Hotel Aloft di seberang pintu masuk Masjid Al-Haram direncanakan memiliki seribu kamar.

Harimau Arab. (Saudi 24 News)

Saudi berlakukan denda Rp 1,5 miliar bagi pemburu harimau Arab

Siapa saja berburu tanpa izin buat pertama kali bakal didenda Rp 37,5 juta.

Penhyanhyi asal Kiuwait Ibtisam Hamid, dikenal dengan nama Basma al-Kuwaitiyah, pada Februari 2021 mengumumkan telah keluar dari Islam dan menjadi penganut Yudaisme. (Screencapture/Twitter)

Penyanyi Kuwait pindah agama jadi penganut Yudaisme

Langkah Basma ini mengikuti jejak penyiar Kuwait Muhammad Mukmin. Dia bulan lalu mengumumkan lewat media sosial, dirinya telah keluar dari Islam dan menjadi pengikut Yesus.

Sekeluarga pelancong asing menumpang delman menyusuri kota kuno Petra di Yordania, Kamis, 30 April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Muslim sekadar jargon

Karena terlanjur sebal, saya terpaksa menerima kembalian sepuluh dinar itu. Dalam hati saya menggerutu, "Sambutan positif karena saya muslim sekadar jargon."





comments powered by Disqus