pelesir

Grup musik asal Libanon bervokalis gay dilarang konser di Amman

Kami tidak akan pernah diizinkan lagi tampil di Yordania sebab keyakinan politik dan agama kami, serta kampanye kami soal kebebasan gender dan seks."

30 April 2016 00:05

Masyru Laila kemarin mestinya tampil di Teater Romawi di Ibu Kota Amman, Yordania. Namun Senin lalu mereka menerima surat resmi dari Departemen Kepurbakalaan Yordania berisi penolakan penggunaan tempat itu sebagai lokasi konser grup musik rock asal Libanon ini.

Mereka beralasan penampilan band indie itu bertentangan dengan nilai-nilai sejarah dari Teater Romawi itu. Penolakan itu atas permintaan pihak gereja.

Padahal band dengan vokalis Hamid Sinno, secara terbuka telah mengaku sebagai gay, ini sudah lebih dari enam kali manggung di Amman, termasuk tiga kali di Teater Romawi, berlokasi di kawasan kota tua Al-Balad.

Masyru Laila gampang menggaet penggemar lantaran lagu-lagu mereka mengangkat tema dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat Arab konservatif. Mulai isu korupsi, kebebasan seks, kebebasan beragama, sensor, hingga kejahatan negara.

Masyru Laila, dalam bahasa Arab bermakna Proyek Satu Malam, dibentuk pada 2008 oleh lima mahasiswa di kampus the American University of Beirut. Band ini telah menghasilkan tiga album studio, yakni Masyru Laila (2008), Al Hal Romancy (2011), dan Ibn al-Lail (2015).

Firas Abu Fakhir, pemain keyboard dan gitaris Masyru Laila, mengaku sangat kaget lantaran Amman termasuk kota di luar Libanon pertama kali menjadi tempat konser mereka. "Itu salah satu negara di mana kami memiliki hubungan sangat dekat dengan vokalis kami," katanya kepada Al-Arabiya. "Ibunya Hamid dari Yordania, keluarganya orang Yordania, dan dia pernah tinggal lama di sana."

Lewat laman Facebooknya dalam bahasa Arab dan Inggris, Masyru Laila menjelaskan soal pembatalan konser mereka itu. "Kami telah diberitahu secara tidak resmi, kami tidak akan pernah diizinkan lagi tampil di Yordania sebab keyakinan politik dan agama kami, serta kampanye kami soal kebebasan gender dan seks."

Amal Hamudah, ketua panitia konser Masyru Laila, bilang kepada majalah 7iber, ada penolakan dari pihak gereja, namun dia tidak mau menyebut alirannya. Terdapat sekitar tiga persen penganut Nasrani di Yordania dengan dua aliran terbesar adalah Yunani Orthodoks dan Katolik Roma.

Sejumlah pejabat gereja menuding lagu Jin bertentangan dengan ajaran Kristen. "Lagu itu mengambil simbol-simbol paling suci dari agama Kristen dan digunakan dalam konteks tidak bermoral," ujar Pastor Rifat Badir, Direktur the Catholic Center for Studies and Media, berkantor di Amman.

Anggota parlemen Yordania Basam al-Batusy mendukung penolakan itu. Dia beralasan Masyru Laila menyerukan revolusi dan mempromosikan ide-ide setan, seperti dilansir situs berita Jo24.

"Grup musik itu melanggar nilai dan tradisi masyarakat Yordania," tutur Gubernur Amman Khalid Abu Zaid.

Restoran di Arab Saudi. (Sky News)

Arab Saudi cabut aturan pemisahan lelaki dan perempuan di restoran

Wali kota Makkah girang dengan keputusan itu.

Muhammad Saud (kanan) berpose bareng dua tamunya asal Israel, Avi dan Beni, di rumahnya di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Twitter)

Dua warga Israel pelesiran ke Arab Saudi

Avi dan Beni menjadi pelancong Israel pertama di Saudi sejak negeri Dua Kota Suci itu menerbitkan visa turis bagi 49 negara.

Syekh Adil al-Kalbani, mantan imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (YouTube)

Ulama Saudi bilang Nabi Muhammad bolehkan bernyanyi dan musik

Sebagian besar ulama Wahabi di Saudi selama ini mengharamkan bernyanyi dan musik. Pandangan terbaru Syekh Adil ini menunjukkan Saudi kian liberal

Film the Perfect Candidate garapan sutradara asal Arab Saudi, Haifa al-Mansur, akan diputar dalam festival film di Israel pada Desember 2019. (Twitter)

Film Arab Saudi akan diputar di Israel

Rencana pemutaran film Saudi di negara Zionis itu menjadi bukti terbaru dari makin mesranya hubungan Israel-Saudi.





comments powered by Disqus