pelesir

Haul Imam Khomeini dan copot cincin kawin

Namun paras mereka berubah sedikit kecut ketika tahu saya Sunni, bukan penganut Syiah.

03 Juni 2016 13:45

Sejak dari tempat saya menginap di Hotel Laleh International, panitia sudah mengumumkan tidak boleh ada benda logam, kamera, telepon seluler, dan tas dibawa ke lokasi acara haul ke-27 mendiang pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Khomeini hari ini. Termasuk cincin kawin saat saya menanyakan kepada seorang panitia.

Dengan sangat terpaksa cincin kawin biasa melingkari jari manis kiri saya copot. Rupanya panitia memberitahu saya salah. Jangankan cincin kawin, cincin batu akik Yaman dipakai seorang peserta haul Imam Khomeini pun dibiarkan.

Seperti acara haul di kalangan Nahdhatul Ulama, peringatan kematian Imam Khomeini pun digelar di kompleks kuburnya terletak di selatan Ibu Kota Teheran, Iran, sekitar setengah jam bermobil, seperti dilaporkan wartawan Albalad.co Faisal Assegaf dari Teheran.

Karena Jumat hari libur mingguan di Iran, jalanan pagi itu lowong. Bus membawa saya baru merambat setiba di dekat kompleks makam Imam Khomeini disebut Haram. Ratusan mobil pribadi dan bus sudah memenuhi areal di luar kompleks kuburan. Barangkali mereka berasal dari jauh, seperti Qum, Isfahan, atau Masyhad, sudah datang dari subuh atau bahkan menginap semalam.

Semarak haul hanya terlihat di sana. Poster-poster Imam Khomeini bertebaran di jalan. Sedangkan di pusat Teheran tidak kelihatan antusiasme masyarakat.

Pelan tapi pasti, bus rombongan saya seolah berlomba dengan ribuan pejalan kaki memasuki kompleks Haram. Dari depan gerbang, jarak bangunan makam Imam Khomeini sekitar satu kilometer.

Bangunan makam dengan empat kubah, satunya berwarna kuning emas dan sisanya hijau, terlihat begitu megah. Di dalam sanalah jasad lelaki 87 tahun itu dikuburkan.

Turun dari bus, para peziarah melewati tiga kali pemeriksaan. Alas kaki mesti dicopot dan disimpan di luar. Kemegahan kompleks Haram kian terasa setelah saya memasuki pelatarannya. Bangunan khas Persia itu dilapisi batu pualam berwarna krem.

Dinding dan lantai berlapis pualam ditambah angin musim panas nan dingin rasanya kian seperti es saat saya menjejakkan kaki ke dalam bangunan setinggi 20 meter itu. Dekorasi langit-langit dan kilauan lampu kristal makin mempercantik bagian dalam Kubah Imam Khomeini. Kuburan sang imam terletak di bagian tengah.

Ribuan orang sudah menjejali bagian dalam bangunan ketika saya masuk. Jumlahnya ketika acara sudah dimulai sekitar sepuluh ribu orang. Sebelum pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei berpidato, presenter mengajak peziarah melantunkan ratapan dan pujian bagi Imam Husain bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad, wafat dalam Perang Karbala.  

Labbaik ya Husain....teriak presenter lewat pengeras suara menggema ke seantero ruang bangunan Haram. Disambut terian serupa bergemuruh dari ribuan peziarah.

Seperti biasa, saat melantunkan ratapan dan pujian bagi Imam Husain para peziarah Syiah ini menepuki dada mereka dengan satu tangan. Kiri atau kanan terserah. Saya tidak mengikuti ritual itu, hanya menonton dan mencoba meresapi atmosfernya.

Karena tidak kuat dingin, saya memilih duduk di luar bareng puluhan peziarah lainnya.

Setelah sekitar dua jam, acara haul Imam Khomeini pun selesai. Para peziarah asal beragam negara - Libanon, Indonesia, Pakistan, Afghanistan, Libanon, Irak - berhamburan menuju kendaraan masing-masing.

Setiba di hotel, dalam lift saya bertemu dua lelaki Iran. Wajah keduanya kelihatan senang saat saya mengiyakan baru saja mengikuti haul Imam Khomeini. Namun paras mereka berubah sedikit kecut ketika tahu saya Sunni, bukan penganut Syiah.

Saya pun sedikit kecewa karena mesti mencopot cincin kawin buat menghadiri haul Imam Khomeini.

Lama Dvora, pemimpin salah satu komunitas Buddha di Israel. (Haaretz)

Lama Dvora, komunitas Buddha di negara Zionis

Kelompok Lama Dvora ini adalah satu dari 20 komunitas Buddha ada di Israel. Tapi kelompok itu paling taat dan terikat terhadap ajaran darma Buddha.

Ilmuwan Polandia menemukan mumi pertama di dunia dalam keadaan hamil setelah memindai menggunakan sinar X. (Warsaw Mummy Project)

Ilmuwan Polandia temukan mumi hamil pertama di dunia

Mumi itu perempuan berumur kisaran 20-30 tahun dengan usia kandungan 26-30 pekan

Adegan dalam drama serial televisi bikinan Israel berjudul Our Boys. (HBO)

Drama serial televisi Israel dijual ke Indonesia

Our Boys bercerita mengenai pembunuhan warga Palestina bernama Muhammad Abu Khudair di Yerusalem oleh tiga orang Yahudi.





comments powered by Disqus