pelesir

Sapa Teheran puja Khomeini

Meski menjadikan Islam sebagai dasar negara, dalam perjalanannya Iran tidak seperti Arab Saudi.

06 Juni 2016 11:08

Lelaki itu sudah 27 tahun masuk liang lahat, namun nama dan fotonya masih bertebaran di seantero Ibu Kota Teheran, Iran.

Gambar mendiang pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Khomeini terpampang di beragam tempat. Mulai dinding toko, jembatan penyeberangan, gedung pemerintah, hotel, papan iklan, taman kota, hingga bandar udara. Bahkan foto-foto Khomeini terlihat di pagar penutup proyek pinggir jalan, seperti dilaporkan wartawan Albalad.co Faisal Assegaf dari Teheran kemarin.

Bertebarannya foto Imam Khomeini seolah menunjukkan sang imam begitu puja rakyatnya. Mau menyeberang jalan, berkeliling kota, menunggu pesawat, atau ingin tidur di hotel, selalu ada foto Imam Khomeini.   

Sopir taksi bernama Jafar termasuk pengagum Khomeini. "Imam (Khomeini) pemimpin baik dan bagus. Saya suka dia," katanya.Imam Khomeini 1

Barangkali memang benar. Meski menjadikan Islam sebagai dasar negara, dalam perjalanannya Iran tidak seperti Arab Saudi, juga menjadikan Islam sebagai pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di negara Mullah itu, kaum hawa bebas berpakaian meski mesti berkerudung, tidak wajib berjilbab. Banyak gadis-gadis bercelana jins dipadu kaus atau kemeja lengan berbagai warna. Namun di negeri Kabah, perempuan wajib berjilbab dan berabaya serba hitam.

Meski dicap anti-Barat, anak-anak muda Iran akrab dengan media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Seperti Niloofar, gadis Iran saya temui di sebuah pusat belanja pada suatu sore, mengajak berteman di Facebook. Mereka juga bebas keluar rumah atau menyetir mobil tanpa didampingi muhrim. Bahkan banyak yang jalan-jalan berduaan.

Kaum hawa di Iran juga bisa bersekolah hingga doktor. Tidak seperti Taliban, mengklaim melaksanakan syariat Islam, namun melarang perempuan bersekolah. Bahkan anggota Taliban pernah menyerbu sebuah bus sekolah dan sempat membikin Malala Yusafzai - kini menjadi tokoh dunia - koma.

Pondasi Islam ditanam Imam Khomeini tidak serta merta memaksa para pemilik toko tutup saban kali azan berkumandang, seperti dilakoni ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di Raqqah, Suriah.  

Meski enam hari di Teheran, saya baru dua kali mendengarkan kumandang azan dari pengeras suara masjid. Sisanya lebih banyak terdengar lewat siaran televisi.

Inilah yang membedakan azan kaum Syiah dengan versi Sunni. Kalau di Sunni ada tambahan ketika salat subuh Asholatu khairum minan naum, azan versi Syiah saya dengar di Iran ada tambahan Asyhadu anna Aliyyan waliyullah dan Asyhadu anna Aliyyan hujjatullah.

Seperti pepatah bahasa Arab menyebut, "Kebersihan sebagian dari iman", jalan-jalan di Teheran bersih dari sampah. Halte-halte bus meski sederhana bebas dari coretan. Pedestrian nyaman untuk pejalan kaki dan tidak ada pedagang asongan mangkal di trotoar.

Berkeliling menyapa Teheran seolah memuja Imam Khomeini. Dia meletakkan dasar Islam tapi mengikuti perkembangan zaman.

Batu Belah tempat keluar air minum bagi Bani Israil berlokasi di Gunung Sinai, Madyan, Arab Saudi. (Living Passages)

Rombongan peziarah Kristen pertama kunjungi Arab Saudi

Gunung Sinai asli berada di Arab Saudi bukan di Mesir.

Gadis Arab Saudi berabaya dan bercadar serba hitam bergoyang pantat saat menonton sebuah konser di Ibu Kota Riyadh. (Twitter)

Polisi Saudi tangkap gadis karena bergoyang pantat saat menonton konser

Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi bulan lalu mengeluarkan panduan berperilaku di muka umum bagi pelancong asing. Siapa saja melanggar bakal dikenai denda, mulai 50 riyal hingga enam ribu riyal.

Ratu kecantikan asal Iran Bahareh Zare Bahari. (Facebook)

Ratu kecantikan Iran minta suaka di Filipina

"Kalau mereka (Filipina) mendeportasi saya, mereka (Iran) akan memenjarakan saya setidaknya 25 tahun jika mereka tidak membunuh saya," kata Bahareh.





comments powered by Disqus