opini

Arab Saudi dan strategi pecah belah negara-negara Islam

Kenapa Arab Saudi tidak menurunkan pasukan militer saat Israel membantai rakyat Palestina di Jalur Gaza pada 2008-2009, 2012, dan 2014.

16 April 2016 20:38

Pidato Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla kemarin dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Kota Istanbul, Turki, menyoroti soal kelemahan organisasi terbesar kedua setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa itu. Dia bilang OKI, beranggotakan 57 negara, telah gagal menciptakan persatu an seluruh negara Islam.

Kenyataannya memang begitu. Bahkan salah satu isi komunike bersama menyebutkan OKI menuding Iran, anggotanya sendiri, menyokong terorisme dan mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Timur Tengah, termasuk Suriah dan Yaman.

Semua mafhum. Tudingan ini menguntungkan Arab Saudi, negara paling berpengaruh dalam OKI, karena menurut seorang diplomat Timur Tengah kepada saya, negara Kabah itu paling banyak menyumbang buat OKI.

Tuduhan itu sebenarnya berlaku pula bagi Arab Saudi. Saat pecah demonstrasi kaum Syiah di Bahrain, merupakan aliran dianut mayoritas rakyat negara itu, Arab Saudi mengirim pasukan buat menumpas mereka. Seperti Yaman, Bahrain, diperintah rezim Sunni, mesti diamankan dari pengaruh Iran karena bertetangga sebelahan dengan Arab Saudi.   

Di Yaman pun sama. Arab Saudi, untuk pertama kali terlibat secara militer. Mereka memimpin pasukan koalisi buat menggempur milisi Syiah Al-Hutiyun, juga sokongan Iran. Bukannya menyelesaikan pemberontakan, intervensi militer Arab saudi malah makin memperunyam masalah di negara bersebelahan itu. Al-Qaidah dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) memiliki waktu berkonsolidasi.

Intervensi Arab Saudi di Yaman itu kian membuka kedok standar ganda rezim Bani Saud. Kenapa Arab Saudi tidak menurunkan pasukan militer saat Israel membantai rakyat Palestina di Jalur Gaza pada 2008-2009, 2012, dan 2014.

Dukungan Arab Saudi terhadap para pemberontak Suriah pun patut dipertanyakan. Bagaimana  bila pemberontakan serupa terjadi di negara mereka sendiri. Apakah Riyadh bakal membiarkan negara lain membantu pihak pemberontak untuk melengserkan rezim Bani Saud? Tentu saja jawabannya tidak.

Strategi ganda Arab Saudi itu lantaran mereka bersaing dalam berebut pengaruh di Timur Tengah dengan Iran. Secara ideologi kedua negara ini memang bermusuhan: Arab Saudi berpaham Wahabi menganggap sesat Syiah dianut mayoritas rakyat negara Mullah itu.

Dua muka Arab Saudi juga terlihat saat mereka membentuk aliansi teror beranggotakan 34 negara. Katanya untuk menumpas ISIS, tapi kenapa mereka tidak mengajak Irak dan Suriah, dua negara menjadi basis utama milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu. Riyadh lebih menggandeng Malaysia ketimbang Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia untuk msuk dalam aliansi itu.

Dengan kekuatan fulusnya, Arab Saudi memang mampu membeli loyalitas negara-negara Islam lainnya. Namun strategi itu pula telah membikin gagal terciptanya persatuan di kalangan negara-negara muslim. Yang ada saling curiga karena berbeda politik dan cara melaksanakan ajaran Islam.

Haji dan ironi Saudi

Haji mengajarkan penghambaan, tunduk merendah, dan bersujud di hadapan Allah dan Kabah, rumah Allah pertama di muka Bumi. Tapi Arab Saudi malah berlaku sombong: menegakkan bangunan-bangunan jangkung berdampingan dengan Masjid Al-Haram. Alhasil, Kabah kelihatan kerdil dikangkangi semisal Menara Zamzam.

Dilema Trump hadapi Iran

Kalaupun Iran dapat dilumpuhkan dengan cepat, Amerika akan kesulitan mencari musuh bersama baru dan ditakuti oleh Arab Saudi dan Israel, dua sekutu utama Amerika di Timur Tengah.

Palestina negara ilusi

Israel adalah sebuah negara teokrasi versi kaum Yahudi Zionis. Karena itu, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah bagian dari keimanan.

Buka dialog dengan Israel, terobosan Indonesia bela Palestina

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon bilang sungguh lucu Indonesia ingin berperan mencari solusi tapi hanya mau berhubungan dengan satu pihak.





comments powered by Disqus

Rubrik opini Terbaru

Saudi must break with the Wahhabi legacy for the security of the world

ISIS is driven by a metastasized form of Wahhabism, the official interpretation of Islam in the kingdom of Saudi Arabia, which holds that all outside its own sect are kufar.

13 Juli 2016

TERSOHOR