wawancara

Dian Wirengjurit (1)

Kalau kita tunggu sanksi dicabut, kita akan ketinggalan kereta

Selama Iran terkena sanksi peluang tetap ada dan terbuka, hanya saja tidak dimanfaatkan oleh pelaku bisnis dan pemerintah Indonesia.

30 Juli 2015 21:32

Perjanjian bersejarah itu dicapai bulan ini di Ibu Kota Wina, Austria. Kedua pihak, Iran dan aliansi Barat, sepakat mengakhiri saling tuding soal program nuklir Iran.

Amerika Serikat bersama para sekutunya menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, namun berkali-kali pula negeri Mullah itu membantah. Teheran menegaskan program nuklir mereka untuk kepentingan energi.

Tercapainya kesepakatan nuklir Iran membuka banyak peluang bisnis dengan negara Persia ini. Indonesia termasuk salah satu negara berpotensi besar mendapatkan kesempatan itu.

Namun Duta Besar Indonesia untuk Iran Dian Wirengjurit ragu pemerintah dan pengusaha Indonesia mampu memaksimalkan peluang ini. Dia beralasan selama Iran terkena sanksi peluang tetap ada dan terbuka, hanya saja tidak dimanfaatkan oleh pelaku bisnis dan pemerintah. "Sebabnya tiga hal: persepsi salah mengenai sanksi, tidak ada keberanian, dan kurangnya kreativitas."

Berikut penjelasan Dian Wirengjurit saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co lewat WhatsApp akhir pekan lalu.

Apakah ada peluang Indonesia di bidang perdagangan dan investasi setelah tercapai kesepakatan nuklir Iran?

Selama ini peluang tetap ada dan terbuka kok. Hanya saja tidak dimanfaatkan oleh pelaku bisnis dan pemerintah. Sebabnya tiga hal: persepsi salah mengenai sanksi, tidak ada keberanian, dan kurangnya kreativitas.

Dengan perjanjian nuklir ini, peluang tetap terbuka karena sanksi belum akan dicabut seketika, melainkan bertahap. Kalau sanksi sudah sepenuhnya dihapus dan kita belum masuk, pasti kita ketinggalan dan mungkin malah tidak dilirik oleh Iran.

Atau memang pemerintah dan pebisnis Indonesia masih menunggu kepastian dari pelaksanaan kesepakatan nuklir?

Iran itu negara punya potensi besar di banyak bidang. Artinya sangat eksotis bagi pebisnis dari banyak negara, khususnya Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Asia Timur.

Kalau sanksi sudah dicabut, kita akan bersaing dengan negara-negara besar itu. Apa iya kita siap? Sayangnya kita tampaknya memang masih menunggu kepastian itu.

Ironisnya, saya kira kita tidak paham isi perjanjian itu. Karena untuk bisa tuntas, impelementasi bisa memakan waktu tahunan, sekitar delapan tahun.

Bisa dijelaskan selama ini bagaimana persepsi salah pemerintah dan pebisnis Indonesia soal sanksi atas Iran?

Pertama, dikira dengan adanya sanksi kita tidak bisa berbisnis. Kedua, kalau sanksi dihapus baru kita bisa berbisnis. Faktanya banyak negara tetap dapat berbisnis dengan Iran selama sanksi, khususnya Malaysia, Singapura, India, Cina, Uni Emirat Arab, Turki.

Saat ini Uni Eropa sudah mulai menjajaki (peluang berbisnis dengan Iran). Kalau kita tunggu sanksi dicabut, kita akan ketinggalan kereta.

Sektor mana saja dapat dimasuki pengusaha Indonesia memang selama ini diminati dan dibutuhkan Iran dari Indonesia?

Sektor perdagangan. Kertas Indonesia dikenal dan dipakai luas di Iran. Juga karet dan kelapa sawit. Sayangnya masuknya lewat Dubai, Malaysia, dan Singapura.

Teh, kopi, dan cokelat pun sangat prospektif, di samping tekstil serta garmen.

Mestinya bisa diupayakan untuk langsung, tapi pebisnis kita sudah puas kalau tidak usah repot. Cukup melalui negara ketiga walau keuntungan berkurang.

Atau memang pengusaha Indonesia tidak siap bersaing dengan negara besar?

Bukan hanya negara besar, sama Malaysia saja kita kalah bersaing dalam segala lini di Iran.

Selama Iran terkena sanksi, berapa nilai ekspor dan impor Indonesia dengan negara itu?

Sanksi sudah berjalan lebih dari 30 tahun, tapi sejak 2012 diperketat dengan sanksi unilateral Amerika Serikat dan Uni Eropa. Akibat salah persepsi, ketakutan, dan ketidakjelasan kebijakan, nilai perdagangan turun terus.

Pada 2011 US$ 1,8 miliar, US$ 1,1 miliar di 2012, US$ 900 juta untuk 2013, dan US$ 500 juta tahun lalu. Sedangkan Malaysia pada 2014 US$ 1 miliar. Semua negara turun, yang naik hanya Amerika Serikat.

Apakah kesepakatan nuklir itu memberikan keistimewaan bagi enam negara perunding, termasuk Uni Eropa, untuk berdagang dan berinvestasi dengan Iran? Mungkin itu bikin pengusaha Indonesia ragu.

Keistiewaan nggak lah. Cuma mereka tahu kapan, tahapan seperti apa, dan kelonggaran macam apa akan diberikan. Jadi bisa diantisipasi peluang bisnis apa dapat masuk.

Kita dari dulu bisa masuk untuk tancapkan kuku kalau mau dan berani. Jadi ketika sanksi bertahap dicabut, kita sudah punya pijakan.

Karena selama terkena sanksi Iran butuh kawan dan Indonesia banyak diharapkan. Tapi kita tidak manfaatkan.

Sebagai duta besar Indonesia untuk Iran, apakah Anda dimintai saran oleh presiden atau menteri terkait soal peluang bisnis dengan Iran setelah ada kesepakatan nuklir?

Sebenarnya saya sudah lelah menyampaikan peluang ini. Laporan-laporan kepada dan pertemuan-pertemuan saya dengan berbagai petinggi lembaga negara dan kalangan bisnis, Kadin (kamar Dagang dan Industri), tampaknya tidak dipahami, dianggap angin lalu, atau mungkin dipandang tidak penting sama sekali.

Akibatnya tidak ada tindak lanjut nyata. Tidak ada pergerakan apa-apa selain janji ini dan itu, nota kesepahaman ini dan itu. Mungkin karena orientasi kita masih tetap mitra tradisional, yakni Barat dan Asia Timur.

Padahal kita disuruh cari pelaung dan pasar non-tradisional. Tapi tidak diimbangi dengan perhatian atau tidak ada koordinasi antar lembaga.

Berdasarkan pengalaman Anda bergaul dengan para pejabat Iran, apakah Anda yakin Iran akan serius melaksanakan kesepakatan nuklir?

Implementasi perjanjian apapun ditentukan oleh komitmen pihak-pihak terlibat. Hambatan utama pelaksanaan adalah perbedaan penafsiran terhadap kewajiban masing-masing pihak. Untuk itu perlu ada verifikasi obyektif.

Masalahnya organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, sering tidak bersikap profesional dan tidak berlaku obyektif karena hanya mewakili atau mencerminkan kepentingan pihak tertentu, khususnya Barat. Indonesia pernah mengalami hal ini ketika referendum Timor-Timur.

Dalam hal nuklir, Iran kali ini di pihak kurang beruntung karena isi perjanjian lebih banyak menuntut kewajiban di pihak Iran. Karena itu Iran dituntut harus benar-benar taat atau sanksi akan diberlakukan kembali. Pilihan ada di pihak Iran.

Michael Mirilashvili, the President and CEO of Watergen, an Israeli company that produce drinking water from air. (Watergen for Albalad.co)

We produce drinking water from air with the highest quality

Watergen is the best solution for drought areas because it is the solution that can be deployed immediately, without the need to establish any water infrastructure, and without any plastic bottles or waste," said Mirilashvili.

Lieutenant Colonel (Reserve) Eyal Dror, the commander of Israel military humanitarian mission for Syrians during 2013-2018. He is also the chief of the Good Neighbor Unit at Israel Defense Force. (Albalad.co)

Israeli military treated and helped Syrians because they are human beings

"The State of Israel is not an enemy and that we want to live with them in peace and willing to help them in such a difficult time," said Eyal Dror.

Rabbi David Rosen from the American Jeiwsh Committee and the Secretary General of the Muslim World League Sheikh Muhammad bin Abdul Karim al-Isa. (Rabbi David Rosen for Albalad.co)

I support the normalization between Indonesia and Israel

"I think this would ultimately be good for Palestinians as well. Isolating Israel only compounds a situation of distress for them," said Rabbi David Rosen.

Ronen Skaletzky, Israeli Jew who refuses Zionism and opposes the normalization between Israel and muslim countries. (Ronen Skaletzky for Albalad.co)

As Israeli Jew, I refuse Zionism and oppose the normalization between Israel and muslim countries

"These Arab dictators try to get US and Israeli support for their regime against Iran and their own people's democratic inspirations. Why should Indonesia join this trend of dictatorial betrayal?" said Ronen Skaletzky.





comments powered by Disqus

Rubrik wawancara Terbaru

We produce drinking water from air with the highest quality

Watergen is the best solution for drought areas because it is the solution that can be deployed immediately, without the need to establish any water infrastructure, and without any plastic bottles or waste," said Mirilashvili.

20 Januari 2021

TERSOHOR