wawancara

Menachem Klein (1)

Yerusalem milik bangsa Yahudi dan Arab

Isu Yerusalem harus diselesaikan lebih dulu.

08 Januari 2016 19:24

Dari sekian banyak isu dalam konflik Palestina-Israel, Yerusalem adalah masalah paling rumit buat diselesaikan.

Bangsa Palestina mendambakan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara mereka. Sedangkan Israel menegaskan Yerusalem adalah ibu kota abadi bangsa Yahudi dan tidak bisa dibagi dua dengan Palestina.

Padahal sebelum berdirinya negara Israel pada 1948, penduduk asli Yerusalem, Yahudi dan Arab, hidup damai. Mereka bergaul dan berbaur. "Hubungan antara orang Yahudi dan Arab saat itu sangat baik," kata Menachem Klein, profesor ilmu politik dari Universitas Bar-Ilan, Tel Aviv, Israel, pertengahan bulan lalu.

Berikut penjelasan Menachem Klein dalam wawancara khusus dengan Faisal Assegaf dari Albalad.co usai penutupan konferensi internasional soal Yerusalem, 15 Desember 2015.

Seberapa rumit isu Yerusalem dalam konflik Palestina-Israel?

Yerusalem rumit karena ada masalah-masalah saling tumpang tindih. Yerusalem adalah kota suci tiga agama, namun terbelah antara Kristen Palestina dan muslim Palestina. Sedangkan Israel adalah Yahudi. Kami memiliki perpecahan nasional.

Selain itu juga ada masalah perkotaan. Konfliknya antara dua daerah perkotaan, Yerusalem Timur (Yerusalem Palestina) dan Yerusalem Barat (Yerusalem Yahudi).

Yerusalem menjadi persoalan sangat rumit karena di dalamnya adalah masalah perpecahan, konflik nasional, dan aspek religius.

Apakah karena Yerusalem memiliki potensi ekonomi sangat besar sehingga sukar diselesaikan?

Ini bukan konflik ekonomi, ini bukan soal kepentingan ekonomi. Konflik ini adalah mengenai identitas nasional, soal simbol agama. Tapi bukan berarti ini perang suci.

Ini adalah konflik nasional lebih banyak diperkuat oleh agama. Ini tentang identitas nasional dan hak menentukan nasib sendiri. Sayangnya, masing-masing pihak mengklaim sebagai pemilik satu-satunya atas Yerusalem. Itu sebuah tragedi.

Hingga sebelum pecah Perang Arab-Israel 1948, Yerusalem dihuni oleh penduduk asli Yahudi dan Arab. Sayangnya, konflik nasional memecah dua penduduk lokal Yerusalem itu dan membawa kita ke situasi seperti sekarang.

Tapi masing-masing pihak mengklaim atas dasar agama karena ada simbol agama di sana?

Di Abad Pertengahan konfliknya adalah soal siapa Tuhan benar dan siapa Tuhan menguasai Tuhan lainnya. Itu konflik teologis.

Namun perdebatannya sekarang adalah siapa pemilik sah Yerusalem, siapa berhal menguasai dan memerintah Yerusalem. Ini konflik nasional diperkuat oleh agama dengan kelompok-kelompok ekstremis konservatif ingin agama menjadi penguasa lagi. Mereka ingin agama menjadi negara berdaulat.

Saling mengklaim dan membantah adalah sebuah tragedi. Dan sekarang kota itu diklaim semua pihak.

Sebelum Israel terbentuk, siapa pemilik Yerusalem menurut sejarah?

Yerusalem adalah milik orang-orang Yahudi dan non-Yahudi. Identitas Palestina adalah patriotisme lokal memiliki Yerusalem. Jadi Yerusalem adalah milik dua bangsa: Yahudi dan Arab.

Zionisme datang dari Eropa dan secara bertahap, setelah dua generasi,Zionisme juga menjadi bagian dari Yerusalem. Para imigran Zionis ini akhirnya juga menjadi penduduk asli Yerusalem.

Sebenarnya proses alamiah imigran menjadi penduduk asli. Masalahnya, gerakan Zionis dan patriotisme Palestina menolak para penduduk asli Yerusalem.

Siapa dominan antara Yahudi dan Arab di Yerusalem sebelum negara Israel berdiri?

Sejak 1870-an orang Yahudi lebih banyak ketimbang Arab, namun sebagian besar tanah dan rumah di Yerusalem milik orang-orang muslim dan Kristen Arab. Ini memunculkan interaksi sangat menarik di Yerusalem.

Jadi orang-orang Yahudi menyewa rumah milik orang Arab muslim. Dalam banyak kasus kontrak sewa itu dibuat menurut syariat Islam, tapi sebagian perjanjian sewa dibikin dengan cara agama Yahudi.

Jadi kehidupan sehari-hari di Yerusalem waktu itu teerjadi pembauran antara orang Yahudi dan Arab. Mereka saling bergaul dan berbaur di mana saja, di kantor pemerintah, kedai kopi, dan pemandian umum. Hubungan antara orang Yahudi dan Arab saat itu sangat baik.

Setelah 1945-1948, hubungan Arab dan Yahudi terbelah. Sehabis Perang 1967, tercipta dimesni berbeda daam interaksi antara orang Yahudi dan Arab di Yerusalem.

Sewaktu berkuasa, Perdana Menteri Ehud Olmert mengusulkan memberikan Yerusalem Timur kepada Palestina, namun gagasan ini ditolak kelompok ultranasionalis dan religius.

Apakah menurut Anda Yahudi sekuler memang berniat melepas Yerusalem Timur buat Palestina?

Kami memang bermasalah dengan kelompok Yahudi ultranasionalis dan religius. Perdana Menteri Olmert telah membuat kesalahan. Saya pikir hal pertama mesti dilakukan tiap pemimpin Israel adalah membuat komitmen, yakni perjanjian dicapai dengan Palestina soal Yerusalem Timur akan diputuskan lewat referendum.

Tapi Olmert dan juga Ehud Barak menolak membuat komitmen soal referendum sehingga mereka kehilangan dukungan dalam kabinet koalisi. Ini memunculkan masalah dalam perundingan.

Mestinya Olmert dan Barak tidak mempedulikan mengenai koalisi karena semua kesepakatan dicapai dengan Palestina akan diputuskan melalui referendum.

Mungkin Olmert dan Barak sadar mereka bakal kalah dalam referendum?

Saya adalah mantan penasihat Olmert dan Barak urusan Yerusalem. Saya sarankan keepada keduanya untuk membikin komitmen untuk membawa semua perjanjian disepakati dengan Palestina ke referendum tapi mereka menolak hal itu.

Terkait meletupnya kekerasan di Yerusalem saat ini. Apakah menurut Anda Israel pihak pertama kali memprovokasi karena mereka ingin berdoa di Kuil Suci?

Ekstremis Israel telah mengubah kondisi di lapangan soal status quo Haram asy-Syarif. Provokasi ini dilakukan kelompok ekstremis dengan reaksi tidak tepat dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sehingga memicu kekerasan.

Hal ini menciptakan reaksi dan kekerasan dari warga Palestina dan gelombang kekerasan menyebar cepat. Itulah permulaan konflik berlangsung saat ini, namun hal itu sebenarnya bisa dicegah.

Barangkali kelompok ekstremis Yahudi itu melancarkan provokasi karena merasa dilindungi pemerintah Israel?

Tidak semua orang sayap kanan di Israel sama. Netanyahu bukan orang paling radikal dalam spektrum sayap kanan di Israel. Tentu saja orang-orang ekstremis dari kelompok sayap kanan mengakui Netanyahu lemah dan sungkan.

Jadi mereka memutuskan melakukan tekanan buat menggolkan agenda mereka. Saya kira pernyataan Netanyahu tidak produktif dan tidak terduga. Dia bilang orang-orang Yahudi tidak akan berdoa di Kuil Gunung.

Komentar semacam ini pun tidak akan pernah diucapkan oleh Moshe Dayan pada Juni 1967. Dia bilang orang yahdi berdoa di Tembok Ratapan. Tapi tidak pernah ada pejabat Israel mengatakan orang-orang Yahudi tidak akan dibolehkan berdoa di Kuil Gunung.

Apakah Anda setuju Israel sebenarnya tidak pernah mau memberikan Yerusalem Timur buat Palestina?

Saya setuju dengan pendapat Anda. Agenda Israel adalah Yerusalem eksklusif milik orang Yahudi saja. Mereka menolak berbagi dengan Palestina. Saya kira ini penulisan sejarah sangat salah. Kebijakan ini sangat merusak untuk masa depan.

Jadi Anda tidak yakin isu Yerusalem bisa diselesaikan?

Itu tergantung Palestina dan Israel. Saya setuju dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki di pembukaan konferensi kemarin, yakni perdamaian harus dimulai dari Yerusalem.

Saya pikir kita tidak boleh menunda penyelesaian isu Yerusalem di akhir. Sebab Israel sebagai pihak kuat dan berkuasa tidak memiliki komitmen untuk menyerahkan Yerusalem  kepada Palestina. Aktivis perdamaian dari kedua pihak harus bergabung untuk melakukan tekanan.

Bagaimana dengan opsi Yerusalem Timur menjadi ibu kota Palestina tapi kompleks Masjid Al-Aqsa dikelola bareng?

Yang terbaik adalah membuat keseimbangan antara Palestina dan Israel. Pengelolaan bersama harus mencakup semuanya, Haram asy-Syarif dan Tembok Ratapan. Jika hanya salah satu saja dikelola bareng maka tidak akan berhasil.

Menurut Inisiatif Jenewa, semua pihak berhak atas tempat-tempat religius bersejarah di Yerusalem, namun masalah kedaulatan akan diputuskan kemudian.

Menachem Klein, professor in political sciences at Bar Ilan University, Israel, poses with the background of the image of  Al-Aqsa in Borobudur Hotel, Jakarta, December 15, 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Muslim communities are bored and desperate with the issue of Palestine

"I wish to make it clear, no one will liberate the Paletinians or work for them. They must operate, be active," said Menachem Klein.

Ratusan warga Palestina bersiap untuk berbuka puasa dengan makanan sumbangan dari masyarakat Indonesia disalurkan melalui KBRI Amman, 25 Mei 2018. (Albalad.co)

Israel berdaulat atas seluruh wilayah Yerusalem versi proposal damai Trump

Palestina akan diberi status negara dengan syarat tidak ada milisi di Jalur Gaza dan Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi dengan Ibu Kota Yerusalem.

Kiri ke kanan: Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri Hasan Kleib, Duta besar Indonesia untuk PBB Desra Percaya, dan Menteri Luar negeri Palestina Riyad al-Maliki saat menggelar jumpa pers di hari pertama konferensi soal Yerusalem di Jakarta, 14 Desember 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kepulauan Faroe akan akui Yerusalem ibu kota Israel

Rencana itu bakal dilaksanakan pada Oktober atau November 2020.

A new book by author Dr. Menachem Klein, professor of political science at Bar-Ilan University, Israel. (Amazon.com)

Abbas is a subcontractor of Israel to rule the West Bank

Dr. Menachem Klein has just launched his new book that compares Arafat and Abbas.





comments powered by Disqus