wawancara

Saya ingin mengembalikan harga diri pengungsi Suriah

Dato Tahir akan diangkat sebagai Eminent Advocate oleh UNHCR pekan depan. Dia adalah orang ketiga di dunia mendapat gelar kehormatan itu.

10 November 2016 09:17

Dua foto korban Perang Suriah tersebar luas ke seantero dunia telah mengusik rasa iba umat manusia. Pertama, potret bocah pengungsi Suriah bernama Alan Kurdi, 5 tahun, ditemukan tewas tertelungkup di pantai di kawasan wisata Bodrum, Turki, awal September tahun lalu. Dia menjadi korban tenggelamnya kapal pengungsi Suriah ingin menyeberang ke Yunani.

Lalu Agustus tahun ini, Umran Daqnisy, juga berumur lima tahun. Dia menjadi korban luka akibat serangan udara pasukan Suriah dan Rusia terhadap basis-basis pemberontak di Aleppo.  

Dalam foto tersebar luas, Umran tengah duduk dalam sebuah ambulans. Dia terdiam, raut wajahnya datar, namun kengerian jelas terlihat dari kondisinya. Seluruh tubuhnya diselimuti debu, kepalanya luka dengan darah mengucur ke pipi.

Umran tanpa ekspresi. Bahkan saat dia mengelap darah di kepalanya, lalu membersihkan tangannya ke kursi ambulans berwarna oranye.

Perang Suriah, berlangsung sejak 2011, diperkirakan telah menewaskan lebih dari 300 ribu orang dan memaksa tujuh juta rakyat Suriah mengungsi ke negara-negara tetangga, bahkan sampai ke Eropa.

Dua foto itu pula telah menggerakkan hati bos Mayapada Dato Tahir untuk membantu dan mengunjungi dua kamp pengungsi Suriah di Yordania. Pada 27 Oktober lalu, orang terkaya nomor 12 di Indonesia versi majalah Forbes tahun ini, melihat langsung kondisi para pengungsi Suriah di kamp di Ibu Kota Amman dan di Azraq, daerah perbatasan Yordania dengan Irak.

Lelaki 64 tahun berharta US$ 2,4 miliar ini menyaksikan, berbicara, menggendong bocah pengungsi, dan bermain sepak bola bareng mereka. "Saya ingin mengembalikan harga diri mereka," kata Dato Tahir saat ditemui di kantornya kemarin.

Selain mengunjungi kamp pengungsi, Dato Tahir juga memberikan bantuan dana US$ 2 juta untuk membangun tempat tinggal para pengungsi Suriah, US$ 1 juta bantuan langsung tunai bagi mereka, dan US$ 1 juta lagi buat pemerintah Yordania. Dato Tahir menjadi konglomerat Indonesia pertama membantu sekaligus mengunjungi kamp pengungsi Suriah.

Bahkan, Dato Tahir akan membentuk sebuah dana abadi sebesar US$ 10 juta untuk membantu para pengungsi Suriah. Pemberian bantuan ini bakal diumumkan saat dia secara resmi diangkat menjadi Eminent Advocate dari UNHCR. Acara ini digelar di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Jumat pekan depan.

Berikut penjelasan Dato Tahir saat wawancara khusus dengan Faisal Assegaf dari Albalad.co.    

Bagaimana Anda bisa memiliki gagasan untuk membantu pengungsi Suriah?

Karena saya mengikuti perjalanan UNHCR, sebab saya sebagai Eminent Advocate dari UNHCR. Orang ketiga di dunia diangkat sebagai Eminent Advocate. UNHCR bilang sama saya ke Yordania dulu, saya ke Yordania. Saya ikut arahannya UNHCR.

Saya bekerja bukan atas nama Mayapada, saya bekerja atas nama UNHCR. Karena saya Eminent Advocate UNHCR ketiga di dunia. Orang pertama adalah istri dari demir Syarjah, Uni Emirat Arab (Syekha Jawahir al-Qasimi), kedua miliarder Amerika berdarah Pakistan Hamdi Ulukaya, dan ketiga saya.

Kapan Anda dapat ide untuk membantu pengungsi Suriah?

Masalah pengungsi sekarang adalah topik utama dunia. Tahun lalu, kita bantu UNICEF (badan PBB urusan anak-anak). Tahun ini, menurut saya, pengungsi. Makanya UNHCR mendekati saya dan saya tanggapi dengan positif.

Apa kesan Anda setelah melihat langsung para pengungsi Suriah di kamp?

Pertama, kita harus lihat pengungsi itu asalnya dari mana? Siapa menciptakan para pengungsi itu? Politisi yang menciptakan. Dari pertama Irak diserang, dihancurkan oleh blok Barat didominasi oleh Amerika. Setelah Irak selesai terjadi Musim Semi Arab.

Tunisia pinter, tidak melibatkan Barat. Tunisia panggil semua oposisi dan menyelesaikan konflik secara internal. Jadi aman Tunisia. Lalu merembet ke Libya.

Alasan blok Barat untuk deradikalisasi dan buat menciptakan suatu demokrasi. Ini kan maunya blok Barat, padahal tiap negara mempunyai situasi berbeda. Dalam menginterpretasikan demokrasi pun harus berbeda karena keadaan tiap negara berbeda. Kualitas pendidikan, ekonomi, dan budaya berbeda.

Blok Barat merasa itu bisa digeneralisir dan menurut saya itu kesalahan terbesar. Anggaplah kita percaya blok Barat punya maksud baik, tapi tidak bisa memaksa dengan lagi-lagi peperangan. Itu tidak bisa.

Sampai hari ini, kita masih ada pertanyaan, Irak itu kenapa dibom, nggak jelas, nggak terbukti (menyimpan senjata pemusnah massal). Tapi sudah berapa juta orang dan anak-anak meninggal.

Saya melihat suatu kemunafikan terberat. Munafiknya begini. Kita mengalami dua hal di media, satu anak kecil (Alan Kurdi) meninggal di pantai, lalu orang Eropa kasihan. Padahal yang mengebom (Suriah) juga orang Eropa (tersenyum). Terakhir anak kecil (cedera di Aleppo) di ambulans, kasihan juga.

Kemunafikan itulah membuat kita gerah. Saya sebagai orang tinggal di negara muslim terbesar, bukan negara Islam, saya terpanggil. Saya tidak melihat lagi posisi saya, apa konglomerat, apa orang sukses, orang kaya, nggak ada lagi. Yang ada, saya ingin mengetahui situasi, ingin membagi kesengsaraan mereka, karena saya orang beruntung, mereka kurang beruntung.

Kedua, ketika saya hadir di sana, saya jelaskan kepada UNHCR, media, fasilitas cukup memadai, ada klinik, ada sarana olahraga, tempat tinggal, okelah. Tapi kita nggak bisa melihat dari sananya. Saya bicara sama orang tua pengungsi, rata-rata orang tua menerima nasib mereka. Padahal mereka tadinya buka toko di Suriah, punya pendapatan tetap. Yang tidak bisa mereka terima adalah nasib anak-anak mereka, bagaimana masa depan mereka.

Saya lihat yang paling tragis adalah manusia bukan kehilangan makanan, bukan kehilangan nyawa, bukan kehilangan sekolah, tapi kehilangan harga diri. Ini (harga diri) mereka udah nggak ada, dirampas oleh politisi. Mereka telah merampas seorang anak kecil punya kehormatan, harga diri.

Manusia bisa hidup karena ada harga diri. Mungkin kita lapar, bangkrut, tidak sekolah, tapi itu semua bisa diterima. Saya jadi ingat ucapan Ibu Teresa: Saya mengembalikan harga diri orang-orang miskin di jalanan agar bisa meninggal sebagai manusia wajar.

Anak-anak pengungsi Suriah itu, mata mereka hampa. Itu paling menyentuh hati saya. Saya mau kembali lagi bulan Maret (tahun depan) ke Yordania.

Jadi Anda akan memberi bantuan rutin bagi pengungsi Suriah?

Saya telah menyerahkan US$ 2 juta untuk membangun tempat tinggal, diberikan kepada UNHCR pusat. Untuk UNHCR di Yordania, saya sudah kasih US$ 1 juta. Saya berencana memberikan US$ 1 juta lagi kepada pemerintah Yordania sebagai rasa terima kasih dan dukungan, karena mereka mau menerima para pengungsi Suriah.

Untuk mengurus para pengungsi Suriah itu, pemerintah Yordania sudah menghabiskan 25 persen dari total anggaran belanja mereka. Saya ingin mendukung mereka.

Artinya, saya lihat mereka, duduk bersama, saya doakan sesuai agama saya, saya main bola bersama, saya ingin mengembalikan harga diri anak-anak pengungsi Suriah itu. Karena mereka hampa, nggak tahu soal masa depan mereka.  

Dari hasil kunjungan ke kamp pengungsi Suriah di Yordania, gambaran apa paling membekas dan tidak akan hilang seumur hidup Anda?

Kemunafikan dari negara-negara adikuasa itu, saya tidak bisa terima. Saya tegaskan, mereka itu munafik. Kedua, mereka itu penjahat perang. Saya tidak mau ikut campur masalah politik, siapa betul, siapa salah. Mereka tidak punya hak untuk mengambil nyawa orang, apapun agama Anda, apapun alasan Anda.

Saya lagi pikir-pikir, George Walker Bush hancurin Irak, bagaimana dia bisa hidup dengan tenteram. Ternyata Irak itu dulu begitu indah, nggak ada masalah, agama juga nggak ada masalah. Sekarang dia (George Walker Bush) hancurkan, perang saudara nggak ada habisnya.         

Apakah di masa depan Anda berencana membawa sejumlah pengungsi Suriah untuk tinggal di Indonesia?

Itu di luar kemampuan saya. Kita juga punya pengungsi di sini, kira-kira 500 ribu orang. Pengungsi Afghanistan di Jakarta dan pengungsi Rohingya di Aceh. Saya pernah menengok kondisi pengungsi Afghanistan, yang Rohingya belum. Saya berencana mengunjungi pengungsi Rohingya.

Anda mengajak para pengusaha Indonesia mengikuti jejak Anda, sejauh ini sudah ada yang menghubungi Anda?

(Tertawa). Saya bukan mengimbau mereka ke Yordania untuk melihat kondisi para pengungsi Suriah. Maksud saya, pengusaha kita sudah mapan, serba berlimpah, di negara kita sendiri juga masih banyak yang bisa kita bantu. Misalnya kita bersama Bill Gates membantu buat kesehatan, Malaria, TBC, HIV, dan program keluarga berencana.

Apa rencana Anda ke depan untuk membantu para pengungsi Suriah?

Saya sudah bicara sama UNHCR, Tahir Foundation akan membentuk suatu dana abadi sebesar US$ 10 juta, untuk membantu membikin sekolah di kamp-kamp pengungsi. Nanti pengumumannya disampaikan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, saat saya diangkat secara resmi sebagai Eminent Advocate dari UNHCR.

Dana US$ 10 juta itu untuk membantu pengungsi secara global?

Saya mau khususkan dulu untuk Suriah. Untuk membangun sekolah di kamp-kamp pengungsi Suriah.  

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Dato Tahir: Membantu pengungsi membuat saya makin bersyukur

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujar Dato Tahir. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Dato Tahir tengah bertanding futsal menghadapi anak-anak pengungsi Suriah. (Dokumentasi KBRI Amman)

Bersua Julia Roberts asal Hama

Almar dan ketiga saudara kandungnya juga tidak sungkan berdekatan dengan salah satu keluarga paling tajir di Indonesia itu.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir saat berbincang dengan keluarga pengungsi asal Suriah di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tiru Dato Tahir, para taipan Indonesia diajak bantu pengungsi Palestina

Dato Tahir juga menjadi konglomerat Indonesia pertama membantu sekaligus mengunjungi kamp pengungsi Suriah, dilakoni sejak 2016.





comments powered by Disqus

Rubrik wawancara Terbaru

We want to establish a truely Islamic government in Afghanistan which is not like ISIS

"Daesh is a foreign phenomenon in Afghanistan and have foreign agenda. Their conduct with common people was brutal, killing them on mere suspicion while we consider ourselves as servants of our people, recruit from them and live among them," said Taliban spokesperson Suhail Syahin to Albalad.co.

30 Desember 2019

TERSOHOR